Day 18 – Dream

19238203_10211204819089339_6658309095979849706_o

Nyaris beranjak malam saat kami berbincang.

“Apa sih yang membuatmu tetap waras, tetap kuat dan tetap bertahan di jalan yang kamu pilih?” matanya mulai menatap kosong ke arah langit yang mulai basah.

Aku tertawa pelan.

“Kau tahu, aku punya cadangan tenaga, suplai energi yang tak terbatas.”

Wajahnya berpaling menatapku. “Apa itu?”

“Mimpi. Aku punya mimpi. Mimpi yang akan selalu aku perjuangkan.”

“Aku juga punya mimpi. Tapi membayangkan mimpi-mimpiku hanya membuat hatiku sakit.” Matanya kembali menatap tetes hujan di kejauhan.

“Setiap kali aku menceritakan mimpiku, teman-temanku pasti menertawakanku. Mungkin bagi mereka mimpiku hanya lelucon.” dia menghela nafas panjang dan meneguk sisa kopi di tangannya.

“Memangnya apa mimpimu?”

“Aku bermimpi punya sekolah khusus anak dengan keterbelakangan mental. Aku ingin menjadi guru di sana.”

“Wow, I am impressed. Aku tidak mengerti kenapa hal itu menjadi hal yang lucu bagi teman-temanmu.”

“Entahlah. Mungkin bagi mereka, adalah hal bagi seorang PNS di instansi besar untuk bermimpi menjadi guru SLB.” dia meraih teko berisi kopi panas, dan menuangkan gelas ketiganya.

“Lagipula, tiap aku melihat sosial media, aku melihat kehidupan teman-temanku yang jauh lebih bahagia dengan keluarga mereka, dengan suami mereka, dengan anak-anak mereka, dengan prestasi mereka, dengan kehidupan mereka. Aku merasa begitu kecil. Midupku terasa hambar. Dan mimpiku seolah tak berharga.” lanjutnya lagi.

“Kau tahu. Kau tahu mengapa aku bisa hidup seolah tanpa beban? ” aku menatap gelasku yang masih penuh.

“Aku tak pernah mempedulikan orang lain.” lanjutku lagi.

“Mudah bagimu berkata seperti itu. Kau memiliki nyaris segalanya.”

“Ahahahahaha….. Menurutmu begitu?”

“Sebenarnya, aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku lelah. Aku lelah merendahkan diriku sendiri. Aku lelah menjadikan kebahagian orang lain menjadi tolak ukur kebahagiaanku. Aku lelah memuja mimpi orang lain dan melupakan mimpiku. Aku lelah meniru kehidupan orang lain tanpa tau arti kehidupanku sendiri. Aku bahkan terlalu lelah untuk marah pada diriku sendiri.” aku menghela nafas dan menerawang jauh, mengingat diriku beberapa tahun silam.

“Tak peduli seberapa konyolnya mimpiku, tak peduli seberapa sulitnya jalan hidupku, tak peduli seberapa pecundangnya aku, namun itulah aku. Kebahagiaan bagi orang lain belum tentu merupakan kebahagiaan bagiku. Keberhasilan bagi orang lain belum tentu keberhasilan bagiku. Aku punya tolak ukur kebahagiaan dan keberhasilan yang tak akan sama dengan orang lain. Karena aku adalah aku, dengan mimpi-mimpiku, dengan perjuanganku, dengan jalan hidupku, dengan harapan-harapanku. Dan tidak ada seorangpun yang berhak menilaiku dengan indikator kehidupan yang bukan kehidupanku.” Aku melanjutkan sambil menyesap pelan kopiku yang sudah mulai dingin.

“Entahlah. Mungkin karena kepribadianku yang negatif.”

“Ah, kau belum tahu betapa negatifnya kepribadianku. Tapi semua ejekan, semua hinaan, semua kata-kata menyakitkan orang-orang di luar sana sudah kenyang kutelan sendiri bulat-bulat. I used to drown myself in despair. Deep… drown. And then I remember my dream. Aku ingat bahwa Tuhan menciptakan sesuatu bukan tanpa arti dan alasan. And my dream, it could be the reason why have I lived.”

“You are right.”

“Probably. I could probably right and I could probably wrong. But… yeah… don’t let anyone put you down. Tak peduli seberapa kecilnya mimpimu, seberapa memalukannya mimpimu, kau harus bangga dan tetap memperjuangkan mimpimu. Selama mimpimu adalah hal yang baik, tak ada seorangpun yang berhak menilai mimpimu, apalagi menertawakan mimpimu. Mimpimu, hanya kau yang tahu betapa berharganya mimpimu, dan hanya kau yang bisa membuatnya menjadi nyata. Ketika kau lelah, ketika kau berputus asa, ingatlah mimpi-mimpimu, jadikan mimpimu energi untuk tetap bertahan dan maju.”

“Hei, aku ingin tahu, apa sebenarnya mimpimu?” Matanya menatapku penasaran.

“Hmm….” aku menghabiskan sisa kopi dingin di gelasku. “Apa kau benar-benar ingin tahu?” aku tersenyum.

“Katakan padaku, sebelum kita berpisah dan pulang.” matanya mengerjap penuh minat.

“Hmm…… baiklah. Tapi ini rahasia.” aku menatapnya tajam dan memelankan suaraku.

“Ya, aku tidak akan membocorkannya kepada siapapun.”sahutnya sambil mendekatkan telinganya ke arahku.

“Hmm…… sebenarnya…. aku…. aku ingin….. aku ingin……. aku ingin menguasai dunia persilatan.” aku berbisik .

“Hah? apa? K… K… Kau!!”serunya sambil menatap tak percaya ke arahku.

“Karena aku sebenarnya keturunan pendekar rajawali sakti.”Sahutku lagi

“Sampai lain waktu, kawan….” aku melambai ke arahnya sambil berjalan ke arah kasir sementara wajahnya masih setengah tak percaya. Dan tawanya lepas saat aku keluar selesai membayar kopiku.

We all have different dreams. Why don’t we start to cherish one another’s dream and work for our own dream. Humiliate other’s dream doesn’t makes your dream comes true anyway~

#NulisRandom2017

Day 8-Percaya Sajalah

10645026_10203812175837878_4575932065975031785_nPernahkah kau merasa bahwa mempertahankan hal yang kau yakini sebagai kebenaran dalam hidupmu menjadi begitu sulit. Masalah-masalah datang membelit, pikiran kian jadi rumit, hati pun mau tak mau ikut terjangkit. Sakit.

Argumentasimu, tak ada yang menerima.
Simpatimu, hanya menimbulkan curiga.
Logikamu, dianggap buta.
Air matamu, hanya dipandang kedok belaka.
Kata-katamu, tak berguna.

Padahal, yang kau inginkan hanya satu. Berpegang kepada yang benar.

Pada titik itu, nak. Bahkan kau mulai berburuk sangka pada semua. Pada teman, pada saudara, pada orang tua, pada rekan, pada dunia, pada Tuhanmu.

Seakan semua bersekutu, membencimu.

 

Sudahlah, kau memang tidak berguna.

Sia-sia kau mencoba meluruskan ranting yang bengkok.

Kau terlalu lemah, jika mereka tak mau dengar, PAKSA!!

Tapi, tak ada salahnya sedikit menyimpang, toh orang lain juga melakukannya.

Satu keburukan tak lantas membuatmu menjadi orang paling buruk di dunia.

Mungkin itu memang satu-satunya jalan. Kau hanya cukup bertaubat setelahnya. Toh Tuhan itu Maha Pengampun.

Dan jutaan bisikan-bisikan yang muncul, menyelinap dibalik belukarnya pikiranmu.

Hatimu gamang.

Jika berpegang kepada kebenaran tampak hanya akan menghancurkanmu, apakah kau masih mau bertahan?

Apa kau rela, menghancurkan dirimu, keluargamu, teman-temanmu. Hanya karena kepalamu yang sekeras baja untuk menolak menjadi ‘fleksibel’ dan mentolerir sebuah kesalahan.

Kau tahu, kesalahan yang kecil itu, tampaknya hanya percikan api di awal, namun akan membakar semua yang kau sayangi. Namun, apa kau sanggup bertahan untuk tidak menyentuhnya? Setelah semua tekanan yang hau rasakan?

Tahukah, Kau nak.

Kebenaran dan kebaikan itu harganya mahal. Jalannya sulit, Cemoohannya banyak.
Namun nilainya pantas kau perjuangkan.

Pesanku cuma satu, nak.

Berprasangka baiklah kepada Tuhanmu. Itu saja.

Bahkan ketika seluruh dunia meninggalkanmu. Bahkan ketika ratusan batuan tajam menghujam kakimu. Bahkan ketika udara yang kau hirup terasa membakar parumu. Bahkan saat kau mulai mempertanyakan Tuhanmu.

Ingatlah.

Tuhanmu Maha Penyayang.

Yang Ia minta hanyalah kepercayaanmu.
Sebagai bukti bahwa kau adalah hamba yang benar-benar menghamba.

Sejauh mana kau sanggup percaya. Bahwa masalahmu tak lebih besar dari kuasa Tuhanmu. Bahwa Tuhanmu sayang padamu, melebihi kau menyayangi degup jantungmu sendiri. Bahwa semuanya adalah skenario indah yang sudah disiapkan untukmu, bahkan sebelum nyawamu ada di jasad.

Nak, teruslah berprasangka baik kepada Tuhanmu.

Itu saja.

Percaya sajalah, bahwa Ia tak pernah salah.
Ia memberikan kesulitan karena Ia mempercayai kekuatanmu.

Percaya sajalah, bahwa Ia tak pernah meninggalkanmu.
Ia hanya menyiapkan jalan terbaik untukmu di saat yang terbaik.

Percaya sajalah, bahwa Ia selalu mendengarkan.
Ia tahu apa yang kau minta, namun Ia tahu apa yang paling baik untukmu.

Meski dari keterpurukan tergelap dalam hidupmu, Ia akan menolongmu bangkit dengan cara yang tak pernah kau duga.

Melebihi ekspektasimu. Melebihi kalkulasimu. Melebihi analisamu. Melebihi segala apa yang enkau mampu pikir dan rasakan.

Tahukah kau nak, disitulah kau akan merasakan, betapa besar kasih sayang-Nya.

–Rawamangun, Setelah perdebatan singkat yang berat–

#NulisRandom2017

Day 6-Sakit Pikiran, Badan yang Sakit

Ada seorang lelaki usia produktif yang jadi pelanggan setia RS.

“Kenapa ya sus, penyakit saya kok nggak sembuh-sembuh.” Keluhnya kepadaku siang itu.

“Udah tes ini, tes itu, cek ini, cek itu, semuanya normal. Saya bingung, sus.” Tambahnya lagi.

Masuk berkali-kali dengan keluhan beragam. Namun tak diketemukan satupun kelainan pada hasil pemeriksaan diagnostik. Misteri….

Apakah ini mistis? Santet mungkin? Atau Voodoo? Guna-guna?

Ah tentu tidaaak~

Oleh dokter, si pemuda ini kemudian dikonsulkan ke bagian kejiwaan, psikiatri untuk mendapat pemeriksaan tentang kemungkinan sumber penyakit misteriusnya. Pikiran.

Percaya tak percaya, pikiran dan jiwa manusia memberikan pengaruh besar bagi fisik manusia.

Stress dan kondisi kejiwaan yang buruk ternyata bisa menimbulkan penyakit-penyakit fisik. Para ahli menyatakan bahwa kondisi psikologis dapat mempengaruhi kondisi fisiologis.

Gejala penyakit yang nyata namun tak kunjung sembuh meski sudah mendapatkan terapi medis, mungkin yang salah itu psikis, bukan fisik, bukan pula santet.

Psikosomatik? Bisa jadi.

Mulai dari gangguan pecernaan, ruam kulit, nyeri ulu hati, kesulitan menelan, kelelahan kronis, nyeri, gangguan pada jantung, dan beragam gejala penyakit lainnya bisa muncul akibat gangguan pada psikis. Ada sangat banyak penyakit hati dan pikiran yang akhirnya menjadi penyakit fisik karena terlalu banyak kontaminasi hal-hal negatif.

Sakit perut saat akan tampil. Mual dan muntah saat akan presentasi. Irama jantung tak beraturan saat bos paling galak akan datang inspeksi. Beser saat akan interview. Demam saat akan ujian. Semua itu bukan imajinasi.

Manajemen stress dan mekanisme koping yang efektif adalah senjatanya dan pikiran yang positif adalah inti pemicunya.

Karena pikiran yang positif dan jiwa yang positif adalah salah satu poin penting untuk tubuh yang sehat dan kuat.

Soooo…… keep positive walaupun di sekelilingmu terlalu banyak hal-hal negatif.
Keep your positive bubble and be strong!!

Percayalah, psikosomatis itu bukan mitos~

#NulisRandom2017

#hijaboramadhanchallenge

Day 5-Aaah…. Aku Pingsan!!

Malam yang  (tumben-tumbenan) tenang di IGD.
“Dokter!!! Suster!!! Tolong anak saya!!” Seorang Ibu yang histeris memecah kehusyu’an gosip malam itu.

Dengan sigap, para punggawa IGD menyambut sang anak yang tam0ak tak sadarkan diri di atas brankar.

Mbak Sita, Perawat penanggung jawab IGD malam itu menganalisa pasien secara cepat dan menghampiri sang ibu.

“Ibu, bisa Ibu ceritakan kejadinya seperti apa sampai anak ibu dibawa kemari.” Mbak Sita memapah si Ibu yang mulai lunglai dan tak henti terisak.

“Anak saya….. hiks….. anak saya….”

“Iya, anak ibu kenapa?”

“Anak saya pingsan lagi, sus…. hiks…. sampai sekarang…. hiks…. belum bangun…. hiks….” Si Ibu mengelap air matanya dengan ujung jilbab yang dikenakannya.

“Yasudah, Ibu tenang dulu, anak ibu sedang kami tangani. Silahkan Ibu menunggu di sini.” Mbak Sita mengarahkan si Ibu untuk duduk di bangku ruang tunggu IGD.

Dengan senyum mistis dan berselimut aura misterius, Mbak Sita menghampiriku yang tengah bersiap untuk mengukur tekanan darah.

“Nggak usah repot-repot, Rin.” Mbak Sida berbisik di telingaku.

“Lah, kenapa mbak?” Dengan tampang bingung aku menatap Mbak sita.

“Kamu liat aja nanti. Tunggu aja dokter Angga datang.” Mbak Sita menepuk pundakku sambil tetap tersenyum penuh misteri.

Tak berapa lama, Dokter Angga, dokter jaga malam itu datang. Selintas melirik ke arah pasien muda itu, Dokter Angga berjalan ke arah lemari penyimpanan obat dan meraih sebotol ethanol dan disiramkannya ke kasa.

Tanpa basa basi, kata pengantar ataupun pantun pembuka, serta merta Dokter Angga mengarahkan kasa berbalur ethanol tadi ke hidung si anak perempuan itu.

“Uhuk…. uhuk….. dokter Angga tega ih…. uhuk… uhuk… bau tau…..” spontan si anak perempuan yang sebelumnya tergeletak lunglai bangun dari ‘pingsan’.

Dan saya shooockkkk sodara sodari sebangsa tanah dan sebangsa air!!

“Kamu tu yah, harus berapa kali dibilangin, jangan pura-pura pingsan lagi!!” Dokter Angga memarahi si anak perempuan yang sekarang merengut-rengut karena aktingnya terbongkar.

Dokter Angga menghela nafas panjang. Keningnya berkerut kusut seperti butuh disetrika. “Kali ini apalagi? Berantem sama pacar?”

Si anak gadis yang masih kelas 11 itu tertunduk sambil tersenyum malu.

“I….. iya dok…..”jawabnya lirih.

Aku yang menyaksikan adegan tadi terpana. Butuh beberapa menit sampai otak jelly-ku memahami kejadian barusan.

Ternyata eh ternyata, anak perempuan tadi sudah berkali-kali masuk IGD dengan diagnosa sinkopasi a.k.a pingsan.

Setelah dilakukan beragam pemeriksaan, tak kunjung diketemukan penyebab penyakitnya. Hingga suatu hari, si anak berhasil dianamnesa dan terkuaklah fakta bahwa selama ini dia hanya PURA-PURA PINGSAN!!

Dan hebatnya lagi, setelah dinasehati, dan diberitahukan kepada keluarganya tentang akting pingsan si anak, ternyata adegan pingsan-pingsanannya masih tetap berlanjut. Dan orang tuanya masih sering tertipu dengan aktingnya tadi. Mungkin kalau ada award untuk adegan pingsan terbaik, dedek gemez satu sini bisa borong piala tiap tahunnya.

—oOo—

Anyway, kasus seperti ini aku kira cuma satu, tapi ternyata……. *jeng jeng* Ternyata ada cukup banyak.

Ketika stress, atau ketika keinginannya tak dipenuhi, pura-pura pingsan menjadi jalan keluar.

Entah itu pengembangan dari ajian jurus ‘pura-pura mati’ ala Raditya Dika, atau memang ada trend seperti itu di kalangan dedek-dedek emezh. Entahlah….

Yang jelas…. apapun tujuannya, pura-pura pingsan (dan atau pura-pura mati) sampai bikin orang tua dan sekeliling kita panik dalah bukan hal yang keren, dik adik….

#NulisRandom2017

No pict for today~ Too tired~

Day 4-Strong

img_20170604_165120_004.jpg

My dear princess, it is better to be strong than to be pretty and useless….

Anak perempuan itu dibesarkan bagai putri dan dididik bagai kesatria.

Sehingga ketika dewasa, kamu tidak akan mencari pangeran yang akan melindungimu, namun kamu akan mencari pedang dan melindungi dirimu sendiri serta orang-orang yang kamu cintai.

Kamu akan terjatuh, dan bangkit. Kamu akan tetap tersenyum meski badai kehidupan menghantammu. Kamu akan tumbuh kuat, cantik mempesona dengan banyak torehan luka yang mengajarkanmu nilai kegigihan.

Percayalah nak, menjadi putri cantik seperti dalam dongeng tak akan berakhir ketika menikahi pangeran tampan.

Kau harus menjadi ratu dan memimpin kerajaanmu sendiri. Dengan tanganmu, dengan kebijaksanaanmu, dengan kelembutan hatimu.

Dear my princess, kau harus tumbuh pintar, berani, kuat dan bijaksana.

Karena kau lebih dari hanya sekedar senyuman manis berhias baju mempesona.

#NulisRandom2017
#HijaboRamadhanChallenge

Day 3-Yatim?

 

#lovethechildren

 

“Suster, tolong gantiin baju cucu saya, saya takut.” Seorang Ibu yang tampak renta menghampiriku yang sedang keliling membagikan obat di bangsal.

“Ayo nek, sini saya bantu.” Aku tersenyum sambil sedikit menggerutu dalam hati. “Kenapa nggak dibantu sama ibunya aja sih.”  Pikirku.

“Nenek takut ngangkatnya, selangnya banyak. Nenek juga udah nggak kuat gendongnya, nak.” Si nenek menatap ke arah pria kecil usia 1 tahun yang terpasang selang infus, selang oksigen, selang makan dan selang kencing.

“Bapak sama ibunya mana, Nek?” Aku spontan bertanya sambil membantu mengganti baju sekaligus membersihkan si anak.

Si nenek terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan, “Ibunya sudah meninggal, sedangkan Bapaknya entah dimana. Bapaknya kabur sebelum anaknya Lahir.”

Aku terdiam. Dalam hati aku memarahi diri sendiri yang sudah berprasangka buruk di awal.

“Sekarang dia tinggalnya sama Nenek dan Kakek aja, sus. Orang tuanya udah nggak ada lagi dua-duanya.” Si Nenek menambahkan sambil tersenyum menatap cucunya.

Melihat si nenek yang mencoba menggendong cucunya dengan hati-hati, seketika itu dadaku nyeri macam dihantam benda tumpul. Sedih.

— oOo —

Percayakah kalian, kasus seperti ini tidak dua, tiga, empat kali aku temukan.

Ada yang Ibunya pergi dan Bapaknya meninggal. Ada yang Bapaknya pergi dan Ibunya meninggal. Ada yang kedua Ibu dan Bapaknya sama-sama meninggalkan si anak. Ada yang entah siapa orang tuanya, dimana rimbanya, kita tidak tau.

Mereka sama-sama menjadi “Yatim-Piatu” dan diasuh oleh orang lain.
Beruntung jika masih memiliki kakek, nenek ataupun saudara yang mau merawat mereka. Tak jarang yang merawat mereka hanyalah tetangga, atau orang yang tak sengaja menemukan atau tak sengaja dititipi si anak.

Yang masih lebih beruntung  adalah yang salah satu orang tuanya saja yang pergi. Entah bapaknya yang kabur atau Ibunya yang menghilang, namun si anak masih tetap memiliki satu orang tua yang tersisa.

Kadang aku termenung .

Mengapa fenomena ini banyak bermunculan?

Apakah kisah yang aku dapat ternyata hanya sekelumit dari puncak gunung es saja?

Apa yang dipikirkan oleh para orang tua itu sampai tega meninggalkan anaknya sendiri?

Bagaimana kakek-kakek dan nenek-nenek bisa mengurus seorang bayi di usianya yang senja?

Apakah anak-anak itu bisa disebut yatim?

Bagaimana kehidupan anak-anak tersebut nantinya?

Apakah mereka akan tumbuh dengan membenci orang tuanya?

Apa lebih baik mereka jadi yatim/piatu/yatim-piatu saja?

Apa yang sebenarnya terjadi?

Anak-anak itu akan tumbuh tanpa orang tua yang utuh. Orang tua mereka ada, namun tiada. Mereka bukan yatim bukan piatu bukan yatim-piatu. Tapi mereka sama sama  anak yang ditinggalkan.

Aku berpikir. Apa yang bisa aku lakukan untuk mereka? Apa yang bisa kita lakukan?

Mereka mungkin tak tinggal di panti asuhan. Tak ada yang akan memberi mereka santunan selain kerabat atau tetangga yang bersimpati. Mereka tak akan hadir di acara gembira yang mengundang anak panti asuhan. Bahkan mungkin tak ada yang akan tau kisah mereka.

Namun mereka ada, berjuang. Bertahan hidup.
Tanpa tahu mengapa mereka ditinggalkan oleh orang tua mereka.

Mereka bukan yatim bukan piatu bukan yatim-piatu.
Mereka anak-anak kita.

Setiap anak yang lahir memiliki hak untuk dicintai.

Tak Peduli siapa ayah ibunya, ataupun entah siapa ayah ibunya, ataupun entah dimana ayah ibunya. Setiap anak berhak mendapat perlindungan dan kasih sayang.

Untuk menjadi pemimpin bagi generasi berikutnya, mereka butuh lingkungan yang akan memupuk mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi orang-orang hebat.

Jika mereka tak bisa tumbuh bersama orang tua biologis mereka, maka kitalah orang tua mereka.

#NulisRandom2017
#Hijaboramadhanchallengeday_7 #SaveTheOrphans