Tentang Anak

“Udah hampir 2017 dan elu masih sibuk pagi-siang-sore-malam ngerawat anak orang. Ngerawat anak sendiri kapan?”

Kata-kata penutup tahun yang awalnya membuatku aku mengerenyitkan alis seraya menggerutu dalam hati. Namun pada akhirnya, aku sadar bahwa itu bukanlah hal yang layak menjadikanku makhluk penggerutu yang kufur nikmat.

Teman, mungkin aku belum memiliki anak, darah dagingku sendiri. Tapi percayalah, ada belasan bahkan puluhan anak yang tersenyum padaku saat mereka kembali sehat dan diperbolehkan pulang. Dan tahukah kamu, itu adalah kenikmatan dan kebahagiaan mewah yang tak semua orang bisa rasakan.
Alhamdulilah aku masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk merawat anak-anak yang sedang sakit. Mungkin mereka memang bukan anak-anakku, tapi tak sembarangan orang diberi amanah oleh Allah untuk merawat anak-anak yang tengah terbaring lemah dan tak berdaya. Dan bukankah itu adalah hal yang patut aku banggakan?

Mungkin sulit bagimu untuk memahami bagimana ada orang-orang yang rela berjaga semalaman demi bayi kecil yang kesulitan bernafas. Bayi yang tak pernah kau kenal, bayi orang asing yang sama sekali tak ada hubungan saudara apapun denganmu.

Tapi percayalah, masih ada aku, teman-temanku, para perawat tangguh yang rela terjaga meski letih dan lelah. Kamilah yang akan merawat anak-anakmu, anak saudara-saudaramu. Siapapun orang tuanya, begitu mereka masuk di ruangan kami, mereka adalah anak-anak kami. Dan kami akan merawat mereka dengan segenap kemampuan kami.

Tak ada yang lebih membanggakan ketika melihat anak-anak yang masuk dengan kondisi lemah tak berdaya, bahkan harus berjuang diantara hidup dan mati dengan prognosis yang tidak baik, namun mereka berjuang bersama orang tua mereka, bersama kami, hingga akhirnya mereka bisa tersenyum lagi, bisa tertawa ceria lagi, bisa menangis lagi, hingga akhirnya pulang dan kembali berkumpul bersama orang tua dan keluarga mereka masing-masing.

Dan aku yakin bahwa kebanggaan dan kebahagiaanku ini tak akan bisa diukur dengan kebanggaan dan kebahagiaanmu.

Percayalah teman. Mungkin sepatuku tampak jelek dan buruk di matamu. Tapi mungkin kau tak pernah tau bahwa sepatuku adalah sepatu paling nyaman di dunia yang Allah berikan kepadaku agar aku dapat melangkah jauh dan melompat tinggi. Dan aku bersyukur.

Pukul 3.10 WIB

Rawamangun, Bangsal Anak

Diantara godaan kantuk dinas malam di Malam Minggu

Ngapain Jadi Perawat?

Masihdalam suasana International Nurses Day, kali ingin cuma pengen menjawab satu dari sekian pertanyaan yang masuk list FAQ to Hazrina.

Kenapa sih kamu jadi perawat?

Ekspresi heran bercampur kaget (dan mungkin dengan bumbu mengasihani) tergambar dengan jelas di raut wajah teman-teman sekolahku saat mendengar pernyataan dari seorang Hazrina, “Ya, aku kuliah di keperawatan.”

Dan pertanyaan wajib selanjutnya adalah, “Kenapa kamu jadi perawat?”

“Kenapa nggak jadi dokter aja?”

“Kenapa nggak di FSRD?”

“Kenapa nggak ini?”

“Kenapa nggak itu?”

Intinya, adalah sulit mempercayai bahwa si Hazrina yang mereka kenal akhirnya memilih jalan perawat. Suatu profesi yang bahkan tak pernah terlintas di benak mereka akan dipilih oleh sang juara umum tingkat bla bla bla *nggak mau nyombong, tapi dikit lah yah*

Ada yang menyayangkan. Ada yang mengasihani. Ada yang masih denial dan, mau percaya. Ada yang bertanya-tanya. Dan ada juga yang menghina.

No problemo~

karena kadang saya juga berkali-kali tergoda untuk ‘selingkuh’ dengan di bidang lain. Bahkan saya nyaris berniat berhenti sampai batas sarjana, dan tidak melanjutkan profesi karena dunia keperawatan bukan passion saya.

Namun saya sudah mengatakan pada diri saya sendiri ketika mengisi kode Ilmu Keperawatan ke dalam lembar pendaftaran SPMB, saya akan menyelesaikan studi saya, betapapun sulitnya. Dan saya adalah orang yang memenuhi apa yang saya katakan. Maka saya bertahan hingga akhirnya saya benar-benar jatuh hati dengan dunia keperawatan ketika masa profesi.

Kenapa si Hazrina memilih keperawatan?

Tidak banyak yang tahu. Karena sejujurnya saya malu. Alasan saya mungkin terdengar terlalu muluk, klise, idealis, atau malah ‘terlalu mulia’sehingga terkesan riya/menyombongkan diri.

Nyaris satu dasawarsa yang lalu, saya mengalami pergumulan batin yang luar biasa. Saya mendapat tawaran kuliah desain grafis di suatu sekolah tinggi, lulus di jurusan TI salah satu universitas swasta terkemuka di kota Padang, dan dari hasil TO mengindikasikan bahwa saya bisa masuk jurusan-jurusan favorit yang saya inginkan. Tapi saat itu, saya memilih Ilmu Keperawatan.

Entah kenapa, pada saat itu di pikiran saya adalah, saya ingin kuliah, saya ingin belajar, saya ingin mempelajari ilmu yang akan berguna bagi saya, bagi keluarga saya. Saat itu saya mempertimbangkan bidang keilmuan apa yang akan bisa tetap saya manfaatkan meskipun saya tidak bekerja. Dan saat berbincang dengan tetangga saya yang seorang dosen dan sekaligus guru besar di Universitas Andalas (Unand), dia menyebutkan bahwa di bawah naungan Fakultas Kedokteran Unand, selain ada pendidikan dokter dan kesehatan masyarakat, ada jurusan ilmu keperawatan. Jenjang keperawatan S1, bukan D3 seperti yang selama ini saya tahu.

Dan saat itu saya mengubah pilihan yang semula Teknik Elektro menjadi Ilmu Keperawatan. *Jauh banget melencengnya, yey!*

Kalau gitu, kenapa nggak jadi dokter aja sekalian?

Awalnya sempat kepikiran buat ngambil kedokteran. Tapi saya berpikir berkali-kali. Saya duduk berjam-jam di depan komputer, mencari tahu perbedaan dokter dan perawat. Dan makin lama saya semakin yakin, yang saya inginkan, belajar menjadi perawat.

Hal utama yang menjadi pertimbangan saya adalah, tekad saya yang saya niatkan dari awal saat itu, saya ingin ilmu saya nanti akan berguna untuk saya, untuk keluarga saya. Saya ingin merawat keluarga saya dengan tangan saya sendiri. Saya ingin belajar bagaimana merawat, bukan sekedar mengobati. Saya ingin belajar bagaimana merawat manusia dengan segala kompleksitas dan keunikannya. bagi saya, mengobati, berbeda dengan merawat. Mengobati berarti fokus kepada penyakit, dan merawat berarti fokus kepada pasien.

22

Tapi kamu pinter. Sayang kalau cuma jadi perawat. 

Ini sebenernya peernyataan yang nyelekit banget.

Hei dude, perawat itu harus pinter. Harus ngerti terapi dan penyakit seperti dokter, harus paham obat-obatan seperti farmasis, harus bisa melayani ibu hamil dan bayi seperti bidan, harus menyelami kejiwaan seperti psikolog, harus tau diit seperti nutrisionis, harus pandai menjelaskan seperti guru, harus menenangkan seperti pemuka agama, harus kuat seperti atlit, harus berpikir logis dan kritis seperti enginer, harus gesit mengatur seperti manajer dan harus tulus seperti seorang ibu.

Percayalah kawan, jika perawat itu HARUS pintar.

Saya yang kamu bilang pintar, tak lebih hanya butiran bon cabe di pinggir piring diantara ratusan perawat-perawat pintar di luar sana.

choose-to-be-anurse

Tapi kerjaan perawat kan susah plus jorok. Nyuapin lah. Nyebokin lah. Buang pipis lah. Mandiin lah. Bersihin borok lah. jijik. Belum lagi kerja pake shif dan nggak libur disaat orang lain liburan.

Ya, gawe perawat emang kedengarannya ekstrim banget nggak ngenakinnya. Semua yang jorok-jorok jadi gawe perawat. Tapi, coba bayangkan disaat kamu sakit, jangankan untuk bekerja,sekedar bergerak ke kamar mandi untuk buang air-pun kamu nggak bisa, dan nggak ada seorangpun yang mau membantu membersihkan kotoranmu karena jijik. Bagaimana perasaanmu? Udah sakit, lemes, berlumuran kotoran, mandipun cuma mimpi. Enak? Pasti nggak.

Perawatlah satu-satunya profesi yang akan membantu memenuhi semua kebutuhan dasarmu. Perawat mungkin nggak akan menetapkan terapimu atau meresepkan obatmu, perawat hanya akan memastikan bahwa kamu mendapat terapi dan pengobatan yang benar dan sesuai. Tapi perawat, akan memastikan bahwa meski kamu sedang sakit, kebutuhan-kebutuhan dasarmu sebagai manusia akan terpenuhi. Kebutuhan makan, tidur, minum, BAB, BAK, kenyamanan, bahkan kebutuhan untuk mengungkapkan kesedihan dan semua aspek dalam hidup yang tak akan kamu sadari akan dibantu pemenuhannya 24 jam sehari. Kenapa perawat harus bekerja secara shif? Karena manusia bukan mesin yang bisa di on-off kapan saja. Manusia butuh perhatian, perawatan, dan pemenuhan kebutuhan dan pengobatan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun, nonstop. Tanggal merah tentu saja bukan alasan untuk meliburkan perawat, karena orang sakit nggak pernah libur.

29fc35c7217c17a4d1f05a935836c9a5

Dan aku membayangkan jika yang sakit adalah orang tuaku, keluargaku, mungkin anak atau suamiku nanti. Pilih mana, mereka dirawat oleh orang lain, atau aku yang akan merawat mereka sendiri?

Saya ingat sewaktu almarhumah si mbah saya menjelang akhir kehidupannya. Beliau mengalami stroke sejak 7-8 tahun yang lalu. Lalu entah darimana beliau mengalami luka di sepanjang lengan kanan dan tungkai beliau. Luka itu akhirnya makin lama makin meluas, menyeruak, hingga menjadi luka kronis karena penyembuhan luka bagi orang tua seusia nenek saya memang sangatlah sulit. Belum lagi kondisi stroke dan usia tua yang mengakibatkan nenek saya hanya bisa terbaring lemah seharian di tempat tidur.

Saat itu saya masih seorang mahasiswa perawat. Saya ingat bagaimana saya membantu ibu saya yang mati-matian merawat nenek saya itu. Memandikan beliau, menyuapi, menceboki, hingga membantu membersihkan luka. Ibu saya adalah orang yang dulunya bekerja di rumah sakit. Dan dia memang melakukan segala yang dia tahu untuk merawat nenek saya di rumah, karena si mbah saat itu menolak untuk dirawat di RS. Meskipun ibu saya akhirnya menyerah karena nggak sanggup dengan bau lukanya dan membiarkan saya sendirian yang membantu seorang perawat yang merupakan tetangga saya membersihkan luka si mbah saya tiap pagi.

“Syukur ada kau yang jadi suster. Ada cucu aku yang mau rawat aku. Ada cucu aku yang tak jijik sama aku. Nanti mama kau tua, kau rawat dia baik-baik ya.” si mbah menasihatiku sambil menangis disuatu siang saat aku sedang menyuapi beliau untuk yang kesekian kali dalam hari itu. Si mbah memang sudah pikun, dia selalu lupa sudah disuapi makan apa belum, dia selalu terbalik-balik bila memanggil cucu-cucu dan cicit-cicitnya, dia tak pernah tau lagi perbedaan pagi dan sore, siang dan malam. Tapi si mbah selalu ingat menanyakan kabar anak keturunannya, apa sudah makan atau belum, resep obat-obatan tradisional jika ada anak keturunannya yang sakit, dan masih bisa mengingat wajah orang-orang yang dikenalnya.5cc1e2d466c74dba4d30cf892e428e0d

Tapi gaji perawat kecil loh. Banyak yang kerja sukarela, digaji ongkos. Bahkan yang digaji di bawah UMR juga banyak.

JIka saya kuliah untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji selangit, tentu saya sudah memilih menjadi apapun selain perawat. Enginer mungkin, arsitek mungkin, designer mungkin.

Tapi jujur, dari awal saya tau ada yang namanya jurusan Ilmu Keperawatan, sayan nggak pernah tertarik dengan iming-iming gaji dan prospek karir.

Kenapa?

Simpel, saya tidak berniat untuk mencari nafkah.

Apalagi berpikiran untuk menjadi kaya dengan profesi ini.

Being-a-Nurse-is-Not-All-Glitz-and-Glamor

Saya tidak berniat untuk menjadi tulang punggung keluarga kecuali memang dibutuhkan.

Bagi kenalan saya, mungkin saya selalu dianggap sosok alpha women. Setrooong women, brooo!! Berkarir, menjadi aktivis, berkutat dengan riset, menyibukan diri dengan pengembangan keahlian dan pendidikan. Tapi sebenarnya, saya tidak pernah ingin menjadi sang pencari nafkah. Warning bagi yang mau ngelamar saya *yakali ada gitu kan* saya tidak mau mencari nafkah. Saya akan dengan senang hati jika diminta untuk berhenti bekerja oleh suami. Hei, mencari nafkah itu kewajiban suami kan. Allah yang menjamin rezki keluarga ada pada rezki suami.Saya suka bekerja, tapi saya sadar kewajiban saya, dan saya meyakini jaminan rezeki dari Allah.  Jika diizinkan, saya akan tetap mengamalkan ilmu saya, karena keilmuan saya bermanfaat bukan hanya untuk saya dan keluarga, tapi juga bermanfaat untuk orang banyak.

Orang tua adalah kewajiban saya saat ini. Saat ini mereka menginginkan saya melanjutkan pendidikan dan bekerja. Suatu saat nanti, suami adalah kewajiban saya dan anak adalah tanggung jawab saya. Saya harus siap dengan apapun nanti. Jikapun saya tidak bekerja, dan harus fokus dengan keluarga,keilmuan saya harus tetap berguna. Begitulah yang di pikiran saya 9 tahun yang lalu.

Don’t get me wrong. Ini bukan urusan ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Bagi saya semua ada pertimbangan dan dasar pemikiran masing-masing keluarga. Dan saya yang masih sexy, free, dan single masih belum dituntut untuk memilih hal itu.

Buat saya, apapun nanti keadaannya bagaimanapun kondisinya, apakah saya dituntut bekerja atau malah tidak diperbolehkan bekerja, saya harus siap. Saya harus siap untuk menjalankan tugas, fungsi dan kewajiban saya sebagai istri dan ibu. Sekian.

Tugas dan kewajiban sebagai ibu, sebagai orang tua terhadap anak tentu tidak boleh dihalangi oleh apapun (kecuali untuk kondisi triage merah, gawat-darurat atau triage hitam, kematian). Ibu dan ayah yang bekerja tentunya harus bisa membagi tugas dan tanggung jawab dalam mendidik anak dan menyiasati kurangnyanya waktu dengan kompensasi kualitas ikatan dan hubungan keluarga yang bermakna. Dan Ibu yang tidak bekerja juga tak boleh melalaikan anak meski dengan setumpuk urusan rumah tangga yang melelahkan. Anak adalah amanah Allah bagi para orang tua. Apakah sudah tertunaikan segala kewajibannya kepada anak? Sudahkah terpenuhi hak anak terhadap orang tua? Kerjasama, dan saling memahami peran dan tanggung jawab ada di tangan orang tua. Ibu bekerja maupun ibu tidak bekerja, tanggung jawab sama, hanya bagaimana kelihaian memainkan peran yang akan berbeda. Semua anak butuh sosok ibu untuk dapat tumbuh dan berkembang.

Mengingat semakin tidak kondusifnya lingkungan bangsa kita untuk perkembangan anak. Pemerkosaan terhadap anak dibawah umur. Pelecehan seksual (bahkan sampai pemerkosaan) oleh anak dibawah umur. Bullying di lingkungan sekolah dan tempat tinggal. Pornografi, minuman keras, rokok, obat-obatan terlarang. Tugas orang tua tentunya  bertambah berat dan semakin berat.

Ketika membaca berita-berita tragis yang setiap hari bermunculan semakin lama semakin menyayat hati, saya selalu mempertanyakan dalam hati, masih adakah tempat yang aman untuk anak kita tumbuh dan berkembang? Bukankah pelukan ayah adalah benteng paling kokoh, dan pangkuan ibu adalah rumah paling nyaman? Mampukah kita menyediakan tempat yang aman untuk anak-anak kita? Mampukah saya?

 

Anyway, setelah sekian lama mempertimbangkan. Alasan-alasan di atas itu adalah hal-hal yang menjadi alasan kenapa saya memilih menjadi perawat dan sekaligus menjadi hal yang memotivasi saya untuk bertahan dan berjuang selama menjadi mahasiswa keperawatan. Belajar di keperawatan sangat berat, bekerja menjadi perawat lebih berat lagi. Tapi semuanya akan terbayar tunai dengan senyum dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang pernah kamu rawat.

ecc8d2c503cbb731d35b0a3e01e0e5df

Special note untuk sahabat sepesantrenan saya yang masih kepo kenapa saya dulu pintar tapi sekarang malah jadi perawat. 

12 Mei, Happy Nurses Day!!

Sebenernya banyak yang pengen diungkapkan di hari istimewa para perawat sedunia ini. Tapi, untuk saat ini, biarlah quotes yang mengungkapkan betapa bangganya saya menjadi perawat.

For all the nurses around the world, the angels with the white crown, keep saving lives dude~

Note : Beberapa jokes cukup “dewasa”. Jadi, tolong cerdasi.

Sabtu Ini, Ber-Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama BapakSabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya

My rating: 5 of 5 stars

Paling males baca buku or nonton sesuatu yang bertema orang tua. Nggak tau kenapa, tapi topik parental bakalan meningkatkan level baper aku ke titik yang bahkan bikin kebaperan-pacaran-bertahuntahun-lalu-mendadak-ditinggal-nikah terlihat lebih indah. *ditendangkejurang*
Makanya niatan mau beli buku ini harus maju-mundur. Tapi akhirnya kebeli juga berkat impulsifitas saat book fair. *BANZAAAAII!!*

Anyway, ekspektasi awal aku terhadap buku ini bener-bener salah. Aku pikir aku nggak bakalan kuat baca karena sibuk menata hati dan menghapus air mata. Tapi ternyata.. yah nggak salah banget lah, sibuk ngakak dan mengatur nafas menahan air mata supaya nangisnya bisa cool gituuuuuu. *cengeng lo!?!**IYA!!*

Kadar humor yang manis bisa mengimbangi sengatan keharuan yang tajam. Pesan dan nasehat didalam ceritanya juga tak terkesan menggurui. Kehadiran tokoh Bapak dan Ibu yang silih berganti memberikan nasehat kehidupan yang bakalan bikin kamu-kamu-kamu-kamu-dan tentunya saya sendiri harus diam sejenak/membaca sebuah kalimat berkali-kali, agar nasehat itu tak hanya tertanam di kepala, juga di hati. Tak hanya akan membuat para perantau mendadak kangen rumah, tapi juga memotivasi si jomblo untuk menjadi orang tua yang lebih baik. *Karena hidup itu adalah rencana bukaan~**jedhuug*

Tokoh-tokoh di dalamnya manusiawi, protagonis dengan kehidupan yang dekat dengan kondisi kekinian dan selera humor yang aduhai. Nggak ada tokoh superduper jahat yang level kejahatannya irasional. Atau tokoh protagonis ngehek yang seolah makhluk sempurna dengan kecacatan yang merupakan kelebihan.*apasih*

Semuanya sederhana, hangat, namun luar biasa kuat. Seperti Bapak.

Aku bersyukur bisa dapetin edisi cover yang lama, karena aku tipe kolektor buku yang benci remake cover buku yang berdasarkan dari film. 5 Bintang untuk cover lama, dan 4 bintang untuk cover baru. Karena, yes, I judge the book by its cover. Dan cover dengan foto manusia/artis or nyatut-nyatut gambar anime is a big big no!!

Note : Harusnya dikasih rating umur 16+ or something. Ada beberapa part yang lumayan ‘menggoda’ dari pasangan Satya dan istrinya.

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung, kepada adik-adiknya.
Menjadi panutan adalah tugas orangtua, untuk semua anak.”

*I need to take some minutes to swept my tears away and pull myself together just because these simple lines. Tolong ingatkan ini, saat saya yang berdiri menjadi orang tua.

View all my reviews

Kerja oooh Kerjaaa~

 

Once upon a time~

Kerja dimana sekarang Rin?

Kalau dulu di Pekanbaru, aku biasa freelance, bikin apa yang bisa dibikin, jual apa yang bisa dijual. Bisa dipanggil buat home care juga. Wanita panggilan gethoo~
Terakhir dinas di RS swasta di Pekanbaru sebelum akhirnya memutuskan ke Jakarta. Dan masih nyari sampai sekarang. So, literally, I am an unemployed. *nyengirkuda**kudalumping*

 

Kalau ke RS Swasta? RS ** atau RS *** udah apply?

Aku udah apply ke beberapa RS swasta, tapi belum ada panggilan sih. Kalau RS ** atau RS *** aku emang nggak apply.

Kenapa gitu?

Yah soalnya di sana perawatnya nggak boleh pake jilbab.

Oh gitu. Di RS **** ?

Aku udah pernah tes disana, tapi kemudian aku tolak.

Kenapa gitu? Temenku ada yang kerja di sana, dan pake jilbab kok.

Kalau di RS **** emang boleh pake jilbab, tapi jilbabnya harus sebatas leher dan lengan baju nggak boleh panjang (cuma boleh sampai 3/4 lengan) dan harus full make up.

Lah emangnya kenapa? Kan itu udah kebijakan RS. Soalnya jilbab kan penyebab infeksi karena perpindahan sumber infeksi dari satu pasien ke pasien lain di area RS.

Sejujur dan sebenarnya, aku butuh bukti ilmiah yang benar-benar bisa membuktikan bahwa mengulurkan jilbab sebatas dada merupakan hal yang dapat membahayakan pasien, baru aku bakalan percaya.
Kebijakan sepihak RS macam ini yang hati kecil aku nggak bisa terima. Kenapa banyak RS swasta keukeuh kalau jilbab ini penyebab infeksi, sementara banyak RS lain termasuk RS pemerintah dan RS di negara-negara islam lainnya yang memperbolehkan jilbab sebatas dada. Kalau misalkan jilbab terbukti membahayakan pasien, lengan baju yang panjang terbukti menghalangi kinerja perawat, dan eyeliner-maskara-lipstick-blush on dsb dapat meningkatkan angka kesembuhan pasien, aku bakalan patuh sepatuh-patuhnya.

Ya, kamu-nya jangan sok alim gitu lah kalau emang mau dapet kerja. 

Yaelah, justru karena aku bukan orang alim, makanya aku mencoba konsisten dengan apa yang aku tahu dan pahami….
Yang aku pahami, jilbab itu harus diulur sampai dada. Yaudah, gitu aja. Aku nggak minta jilbab diulur sampe perut atau pergelangan tangan kok. Cukup sampai dada. Lengan baju sampai pergelangan tangan, nggak perlu sampai telapak tangan.
Dan lagi, penampilan rapih, bersih plus sikap empati yang tulus dan komunikasi yang baik kayaknya bakalan lebih menyembuhkan dibanding bedak dan lipstik.

Kalau milih-milih gitu terus, gimana kamu bisa kerja. Pengangguran mulu, mau?

Yaiyalah harus dipilih kerjaan.Nggak mau kan, nyari rezeki dengan ngelanggar aturan sang Pemberi Rezeki. Ntar Rezekinya nggak berkah, gimana? serem kan?
Aku sih yah, yakin, rezeki itu hak prerogatif-nya Allah. Tugas aku cuma taat sama yang ngasih rezeki.  Itu aja kok.
Aku nggak takut nganggur kok, toh rezeki semua makhluk udah dijamin. Mungkin rezekinya aku emang nggak lewat tanganku, tapi masih harus lewat tangan orang tuaku. Aku lebih takut kalau rezeki yang aku makan berasal dari jalan aku mengkhianati usahaku untuk taat. 

Ya namanya juga berjuang, Rin, harus siap ada yang dikorbanin. Kan bukan dosa besar gini.

Ya emang, bener. Tapi aku nggak mau kalau yang dikorbanin itu keyakinan aku. Aku mah udah kebanyakan dosa. Aku bukan orang alim yang ilmu agamanya selangit. Atau orang sholeh yang ibadahnya sampe nembus pintu langit. Jadi yah satu-satunya yang aku bisa cuma ngerjain apa yang aku yakini benar. Gimana nantinya, itu urusan Allah.

Yaudah kalau gitu yah terserah kamu lah.

Ya doain aja, setidaknya kalau aku nggak rezeki ngelamar kemana-mana, mungkin rezekinya aku yang dilamar gitu kan bisaaaa~ *laluditendangkekawahmerapi**tetep**perkaraemaktiapharinanyaincalonmulu*

——- ***——-

Percakapan di atas adalah kutipan dari pertanyaan-pertayaan yang selalu mempertanyakan kenapa saya pilih-pilih kerja.

Biasanya kalau mood jelek, di pertanyaan keenam saya akan memutuskan pembicaraan dengan kalimat, “yah, belum ada rezekinya disana.”

Dan kalau yang nanya itu agen MLM berkedok teman-lama-yang-cuma-kenal-nama-tapi-mendadak-ramah-dan-pengertian, respon yang paling layak adalah ayat kursi, pura-pura amnesia dikombinasi jurus ngeles seribu bajaj. *wataaawzwiingzwiingcring*

Bagi yang bertanya-tanya apakah kisah ini fiksi, saya bilang, oooo…. tentu tiiidaaaak~

RS yang ngelarang pegawainya berjilbab, ada. Yang ngelarang jilbab diulurkan sampai dada, ada+banyak+banget.

Kalau orang lain boleh buka-bukaan, kenapa saya nggak boleh tutup-tutupan? *lho*
Diskriminasi? ngelanggar HAM? entahlah. Yang jelas belum ada aktivis HAM yang sampe rela panas-panasan buat membela hak berjilbab.

Gitu aja sik… mau jadi orang bener dikit aja susah? iyes bingits…..

Note : Tidak terima komplain. Cukup terima hibah dan hadiah. *wink*

(Jakarta, setelah tidak tidur layak selama dua hari karena otak terlalu aktif)

 

Dari Mana?

Holaaa eprebadeh~
Lama nggak curhat di blog, kangen juga ternyata~ *hug*

Apakah ada yang kangen dengan ke-gajean dan nyinyiran sayaah??? Keseringan nulis (sok) serius dengan mengurangi kadar kegajean secara drastis sepertinya mengurangi elektabilitas, popularitas, dan reabilitas sayah sebagai Presiden Orang Aneh secara tragis dan dramatis. *elus-elus jenggot**jenggotnya kambing**apasih!!*

Meskipun belakangan tulisan-tulisan saya di blog-FB-Twitter terkesan galau-gelisah-gundah-gulana, namun sebenernya di kehidupan nyata saya masih menikmati hidup dengan keanehan cara saya sendiri.

Anyway mungkin belum banyak yang tahu kalau beberapa bulan terakhir aku mengembara mencari 7 bola naga di belantara ibukota. Nggak niat nutup-nutupin sih yah, tapi demi menghindari ajakan manis kumpul-kumpul reunian yang berujung PHP (aku tuh nggak bisa diginiin qq~) dan yang lebih penting, buat menghindari reunian berujung prospek MLM!! *salam DAHSYAT!!*

Beberapa bulan disini mengajarkanku bahwa jawaban “dari rumah” adalah bukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan “dari mana”

dari mana? = aslinya mana? = asalnya dimana? = orang mana? = kampungnya dimana?

Which is adalah pertanyaan yang membuat pergolakan batin dahsyat bagi seorang Hazrina selain pertanyaan kapan nikah.

Namun gebleknya, tadi siang pas ditanyain sama satpam Dinkes “dari mana dek?” jawaban refleks yang keluar adalah “dari rumah, Pak”
Kontan si bapak ketawa dan aku merutuki ketidaksinkronan mendadak dari otak dan oral dalam hati.

“Urang Bandung nya neng?” si Bapak ngeliatin KTP yang aku sodorin waktu awal masuk.

“eh? eh?” *gelagapan*

“Bandungnya di manten?”

“Eh.. itu.. di Antapani, Pak. Kayaknya” refleks nyebut lokasi rumah nenek di Bandung.

“Saya ke lantai 3 dulu ya Pak, takut orangnya istirahat.” buru-buru aku ngacir meninggalkan si Bapak, sebelum si bapak mulai terlihat seperti si Kabayan tanpa subtitle.

Seriouslly… kejadian diajak nyunda karena ketahuan lahir di Bandung bukan sekali dua kali. Dari satpam, petugas loket RS, pegawai imigrasi, sampe petugas puskesmas yang kebetulan urang pasundan, mereka bakalan auto-switch jadi sunda mode : on.

Yah, namanya di rantau yah. Kalau ketemu orang dari satu daerah, insting kedaerahannya jadi menggebu-gebu gethooo. Tapi masalahnya, sunda KTP sayanya mah! Selain KTP, yang nyunda dari saya cuma lidah, buat urusan makanan doang, bukan ngomong. Lah nenek sama tante yang ngajak ngobrol pake bahasa sunda aja aku  jawab pake bahasa minang!! Kurang roaming apa sayah kalau diajak nyunda!!

Belajar dari pengalaman sebelumnya, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan ‘kok bisa?’ atau ‘kenapa gitu?’, maka setiap ditanya daerah asal, jawabannya bisa berbeda-beda tergantung situasi, penanya, tujuan pertanyaan, lokasi pertanyaan diajukan, dan mood.

Misalnya, jawaban paling cocok dalam kondisi mood bagus atau dalam situasi formal adalah :
“Ayah saya asli Batusangkar, Ibu saya campuran Solo-Lintau. Jadi, saya tidak punya suku. ” –> Maka dengan senang hati saya akan menjelaskan tentang perbedaan sistim patrilineal dan matrilineal sebanyak 2 SKS, jika diperlukan. Bahkan jika muncul pertanyaan mengapa saya lahir di Bandung, kuliah di Padang, ber-KTP Pekanbaru, maka siapkan diri karena kisahnya cukup panjang. 🙂

Kalau mood lagi jelek, jawabannya biasanya :
“Ayah saya orang Batusangkar.” Sekian. atau
“Saya orang Japang, Jawa-Padang.” –> biasanya buat temen sebaya atau situasi informal.

Kalau mood lagi super jelek atau nggak pengen memperpanjang percakapan biasanya jawaban pamungkas adalah :

  • Yang nanya orang Sumbar atau pertanyaan diajukan di wilayah Sumbar :
    “Saya keturunan Jawa.”
  • Yang nanya orang luar Sumbar atau pertanyaan diajukan di luar wilayah Sumbar (terutama Jawa) :
    “Saya orang Padang.”

Mengapa harus mengaku orang Jawa kepada orang Minang dan mengaku orang Minang kepada orang Jawa?

Karena menurut orang Minang, wajah saya khas kemayu orang Jawa. Sedangkan menurut orang Jawa, saya itu keras khas orang Sumatera. Bagi orang Sumatera, saya itu terlalu Jawa, dan bagi orang Jawa, saya itu terlalu Sumatera. *Hayati jadi serba salah~*

Nah, daripada terjadi kontradiksi wajah Jawa mengaku Sumatera atau paras Sumatera mengaku Jawa, sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan semacam, “orang Minang kok wajahnya Jawa”, atau “orang Jawa kok mirip orang Sumatera”maka, menyesuaikan jawaban dengan ekspektasi dan persepsi orang-orang adalah jalan keluar yang paling gampang. Dan nggak pake nipu.

Dikira Jawa tulen atau Minang tulen, udah biasa. Yang luar biasa itu waktu seleksi di Fatmawati, ada salah satu peserta seleksi (lelaki) asal Banda Aceh yang bilang,
“Pas pertama ketemu, aku kira kamu orang Aceh, Rin.”
Nah loh!! Dikira orang Aceh pula sekarang!! Aaaaak!! Papaaaa, jadi aku sebenernya orang mana???? *nangis di bawah shower*

Anyway. Dari keruwetan tentang daerah asal, sebenarnya saya merasa bersyukur. Karena dengan demikian, saya punya banyak sanak-saudara. Contohnya, ketika di tanah abang, saya menjadi sanak sesama orang Minang yang berakhir dengan diskonan harga baju. Atau ngobrol sama tukang gorengan asli Jawa Tengah dengan bonus cireng gratis. Atau diantar naik lift khusus karyawan sampai ke ruangan yang dituju karena si bapak satpamnya sesama lahir di tanah Sunda.

Bonusnya lagi adalah saya nggak perlu pusing mikirin suku calon suami, karena nggak ada pantang larangan kesukuan. Secaraaa, nggak punya suku gitu loooh~ Huohohoho~ *idung kembang-kempis*

Dan pada akhirnya, pertanyaan ‘dari mana?’ akan tetap menjadi pertanyaan paling dilematis untuk dijawab. Pengalaman mengajarkan bahwa, ‘Indonesia’ bukanlah jawaban yang diharapkan dari pertanyaan, ‘daerah asal’ di form biodata. Karena terakhir kali saya menuliskan ‘Indonesia’ di form biodata wisudawan, saya berakhir di ruangan administrasi Fakultas dengan bonus cubitan unyu dari teman-teman wisudawati.

Jadi….. pada suatu hari nanti……….

“Dari mana, nak?”

“Bapak mau tau saya asalnya dari mana?Mau tau? Mau tau? Panjang ceritanya……” *elus jenggot**menatap langit*

“Bermula dari Sun Go Kong dan kawan-kawan mengembara ke Timur. Dan Chinmi yang mencari guru….” *lalu digeplak pake sepatu

 

Keganjilan Itu, Karena Mary Poppins Sudah Kembali

Mary Poppins Comes Back (Mary Poppins, #2)Mary Poppins Comes Back by P.L. Travers

My rating: 3 of 5 stars

Akhirnya selesai jugaaa!!!

Untuk ukuran buku setebal 336 halaman, progress membaca buku ini memang tergolong lambretoos cokolatos (read : luambat buanget). Terhitung dari November 2015, lalu pending selama 3 bulan karena kesibukan ini itu. Dan akhirnya dilanjutkan kembali bulan Januari lalu.

Kecepatan membaca selain dipengaruhi kesibukan, juga dipengaruhi oleh hasil terjemahan bahasa Indonesia yang cukup membuat saya berkerut-kerut kening, re-read over and over, dan bahkan beberapa kali harus menerjemahkan hasil terjemahan buku (yang sudah dalam bahasa Indonesia) ke bahasa Inggris (lagi) untuk bisa paham dan dapet “feel” dari karya seorang P.L.Travers.
Namun begitu, aku ngerasa hasil terjemahannya makin ke belakang, makin bagus dan makin mudah dipahami. Atau mungkin emang otak aku aja yang butuh pemanasan

Okeh…. Dari segi cerita, Mary Poppins Come back ini tetap menyajikan kisah sang pengasuh ‘ajaib’, Mary Poppins. Dengan segala sikap narsistik-tegas-angkuh-elegan dan hal-hal aneh yang selalu terjadi di sekitarnya, Mary Poppins kembali ke Cherry-Tree Line untuk mengasuh Jane, Michael, si kembar John dan Barbara, serta si mungil Annabele yang lahir di BAB 5.

Buku ini penuh dengan detail imajinasi yang bikin otak tua dewasa saya harus bekerja ekstra keras mengimajinasikannya. Lupakan semua logika, non-aktifkan sementara otak kiri anda, bersenang-senanglah dengan otak kanan anda. Mari membayangkan bagaimana sirkus konstelasi-konstelasi bintang yang dipimpin matahari di hari keluar malam, merangkai musim semi dengan Nellie-Rubina-sang keturunan langsung Nuh, atau terjebak di mangkuk Royal Doulton pada Rabu sial. Dengan ilustrasi sederhana, kita akan dipandu untuk ikut dalam dunia imaji bersama pengasuh kesayangan kita, Mary Poppins.

Hal yang menarik adalah, dibalik kesan kekanakan dan tak masuk akal, sejatinya kisah-kisah di buku ini memberikan pelajaran tersirat mengenai hidup.

Kisah Jungkir-Balik bersama Mr. Turvy dan Senin Keduanya yang serba kebalikan mengajarkan bahwa jungkir-balik melihat sesuatu dari perspektif yang berbeda akan memberikan pengalaman berbeda yang membahagiakan. Kisah Robetson Ay si Anak Nakal mengajarkan bahwa kebijaksanaan bisa datang dari siapa saja, dan belajar kebijaksanaan itu tidak bisa melalui paksaan, namun melalui cara menikmati kebijaksanaan tersebut. Balon dan Balon sang nenek Balon mewanti-wanti untuk berhati-hati dalam menentukan pilihan, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, karena ada banyak anak mendapat balon yang keliru dan hidupnya tidak pernah sama lagi, pilihan yang keliru akan membuatmu ‘tidak dapat terbang’. Dan masih banyak lagi pesan moral yang bisa kamu-kamu-kamu inerpretasikan sendiri.

Secara keseluruhan, selain karena tata bahasanya (menerjemahkan sastra klasik emang susah), buku ini layak dinikmati bagi orang yang hoby mengeksploitasi otak kanannya dengan kisah-kisah unik nan jenaka serta aneh-bin-ajaib penuh imajinasi. Tak ada romance, tak ada perang antar galaksi, tak ada super hero, tak ada super power, hanya ada super nanny dengan kisah-kisahnya yang tak bisa dijelaskan. Dan sampai akhir kisah, kita tetap akan bertanya-tanya, siapa sebenarnya Mary Poppins, dan mengapa ia selalu pergi saat kalungnya putus. Dan tentu saja, Mary Poppins selalu menyimpan segalanya sendiri, dia tidak akan pernah menjawab apapun.

“Sapi hitam putih
Duduk di Pohon
Dan jika aku adalah dia
Maka aku bukanlah aku!”

“Bumi berputar
Tidak miring
Supaya Laut
Tidak terjunngkir.”

“Oh, aku bisa belajar
Sampai babak belur.
Tapi aku tidak akan punya
Waktu untuk tafakur!”

“Kita tidak mau pergi
Mengelilingi Dunia
Karena kita hanya akan
Kembali ke Rumah!”

“Semua
Kepala Profesor
Harus ditenggelamkan
Sewaktu masih bayi!”

-nyanyian Raja Kastel kepada Kepala Profesor

View all my reviews