Memilih

Banyak yang bilang, “tak boleh terlalu pilih-pilih.”

Ada pula yang berkata, “yang seperti apa sih yang kau cari?”

Tak sedikit yang menyarankan, “coba dulu lah, tak ada salahnya.”

Lalu semuanya menatapku tajam.

Sementara aku berpikir.

Tak mungkin aku tak pilih-pilih. Bagaimana kalau ternyata dia hanya bagus ketika tampak di luaran. Bagaimanya jika ternyata dia yang sebenarnya membuatku tak nyaman. Bagaimana jika kita ternyata tidak cocok. Bagaimana jika dia ternyata tak se-syar’i yang dikoar-koarkan. Bagaimana jika dia yang akan menyeretku menjauhi ridho-Nya. Bagaimana jika nanti harga yang kubayarkan terlalu mahal sedangkan yang kudapat tak seindah yang dikatakan orang-orang. Aku yang akan menjalani, orang-orang hanya akan melihat dan menjadi komentator, awak nan ka mamakai (saya yang akan memakai) kata orang minang. Kalau salah pilihanku, akulah yang akan menanggung kerugiannya, menanggung penyesalannya, dan bersusah payah memperbaikinya.

Dan mereka berkata lagi, “tak bolehlah mendzolimi diri sendiri.”

Lalu ada yang menasehati, “setidaknya, terkabulkan satu keinginanmu.”

Ada juga yang menasehati, “kau harus berani, apapun juga, kau tau resikonya. Kau harus siap.”

Lalu siang itu aku termenung. Memantapkan hati.

Setelah menimbang-nimbang manfaat dan mudharatnya. Untung ruginya. Baik buruknya.

Akupun memutuskan.

Siang itu aku mengirimkan balasan kepada seorang ukhti yang telah lama berbalas pesan denganku.

“Oke ukh, saya fix order gamis yang candy size M ya ukh. Insyaallah nanti siang saya transfer.”

Demikianlah saudara-saudari sebangsa tanah dan sebangsa air. Perkara kali ini cuma perkara galau mau beli baju online. Berhubung sudah bertahun-tahun si Hazrina tidak beli baju baru, akhirnya sampai juga niatan si Hazrina ini buat punya gamis ala-ala ukhti-ukhti nan trendy.

Jangan lupa, beli baju online itu harus hati-hati ya, ukh~

Milih baju aja susah. Apalagi milih jodoh eaaa. Baju yang cuma dipakai sekali-sekali saja harus dipikirkan betul ukurannya, warnanya, bahannya, modelnya, jahitannya, dan printilan-printilan kecil lainnya. Apalagi pasangan hidup yang akan dipakai seumur dunia-akhirat, sembrono sekali saya kalau tak pakai menimbang.

“Istrimu ada pakaian bagimu, dan kamupun pakaian bagi mereka.” (Al-Baqoroh : 187)

Advertisements

Day 29 – Merayakan Kegagalan

“Hi bro, you know what, I failed. Again.”

“You can try again.”

“Of course I will.”

“Let’s grab some food and talk about it.”

Lalu kita akan duduk sambil mengevaluasi kegagalan demi kegagalan. Menghitung kelemahan dan mengkalkulasi kemungkinan dan kesempatan yang ada.

Sambil tertawa.

Ringan.

Tanpa beban.

Tanpa sakit hati.

Dan melewati fase denial-anger-bargain-depression dengan elegan.

Karena kita.

Selalu merayakan kegagalan.

Karena kegagalan adalah bumbu penyedap keberhasilan.

Tumbuh di lingkungan yang hanya menghargai keberhasilan. Dengan tuntutan prestasi sempurna tanpa cela. Kegagalan adalah aib. Adalah suatu big no no no!!

Kamu gagal, maka nilaimu dirimu dimata orang-orang akan berkurang.

Karena itu banyak yang gagal mencapai fase acceptance tanpa psikosis.

Karena itu, aku memutuskan untuk menerima kegagalan dengan perayaan, evaluasi, perbaikan, dan coba lagi.

Aku belajar satu hal. Keberhasilan yang didapatkan tanpa kegagalan tak akan sememuaskan keberhasilan yang didapatkan dengan melalui kegagalan. Semakin banyak kegagalan, semakin sulit jalannya, maka nilai kepuasan akan suatu pencapaian akan semakin meningkat.

Nikmatnya keberhasilan tidak akan terasa tanpa kegagalan. 
Karena itu, merayakan kegagalan. Merayakan keberanian untuk mencoba. Merayakan jalan untuk memuhasabah diri. Merayakan kegigihan untuk memperbaiki diri dan mencoba lagi.

“Let’s celebrate your failure.”

Dear you, aku tidak sakit hati dengan kegagalan. Karena aku tahu ada lebih banyak pelajaran dari kegagalan. Lebih dari yang kamu tahu. Karena itu, aku selalu merayakan kegagalan dan berdamai dengan kelemahanku.

Day 18 – Dream

19238203_10211204819089339_6658309095979849706_o

Nyaris beranjak malam saat kami berbincang.

“Apa sih yang membuatmu tetap waras, tetap kuat dan tetap bertahan di jalan yang kamu pilih?” matanya mulai menatap kosong ke arah langit yang mulai basah.

Aku tertawa pelan.

“Kau tahu, aku punya cadangan tenaga, suplai energi yang tak terbatas.”

Wajahnya berpaling menatapku. “Apa itu?”

“Mimpi. Aku punya mimpi. Mimpi yang akan selalu aku perjuangkan.”

“Aku juga punya mimpi. Tapi membayangkan mimpi-mimpiku hanya membuat hatiku sakit.” Matanya kembali menatap tetes hujan di kejauhan.

“Setiap kali aku menceritakan mimpiku, teman-temanku pasti menertawakanku. Mungkin bagi mereka mimpiku hanya lelucon.” dia menghela nafas panjang dan meneguk sisa kopi di tangannya.

“Memangnya apa mimpimu?”

“Aku bermimpi punya sekolah khusus anak dengan keterbelakangan mental. Aku ingin menjadi guru di sana.”

“Wow, I am impressed. Aku tidak mengerti kenapa hal itu menjadi hal yang lucu bagi teman-temanmu.”

“Entahlah. Mungkin bagi mereka, adalah hal bagi seorang PNS di instansi besar untuk bermimpi menjadi guru SLB.” dia meraih teko berisi kopi panas, dan menuangkan gelas ketiganya.

“Lagipula, tiap aku melihat sosial media, aku melihat kehidupan teman-temanku yang jauh lebih bahagia dengan keluarga mereka, dengan suami mereka, dengan anak-anak mereka, dengan prestasi mereka, dengan kehidupan mereka. Aku merasa begitu kecil. Midupku terasa hambar. Dan mimpiku seolah tak berharga.” lanjutnya lagi.

“Kau tahu. Kau tahu mengapa aku bisa hidup seolah tanpa beban? ” aku menatap gelasku yang masih penuh.

“Aku tak pernah mempedulikan orang lain.” lanjutku lagi.

“Mudah bagimu berkata seperti itu. Kau memiliki nyaris segalanya.”

“Ahahahahaha….. Menurutmu begitu?”

“Sebenarnya, aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan. Tapi aku lelah. Aku lelah merendahkan diriku sendiri. Aku lelah menjadikan kebahagian orang lain menjadi tolak ukur kebahagiaanku. Aku lelah memuja mimpi orang lain dan melupakan mimpiku. Aku lelah meniru kehidupan orang lain tanpa tau arti kehidupanku sendiri. Aku bahkan terlalu lelah untuk marah pada diriku sendiri.” aku menghela nafas dan menerawang jauh, mengingat diriku beberapa tahun silam.

“Tak peduli seberapa konyolnya mimpiku, tak peduli seberapa sulitnya jalan hidupku, tak peduli seberapa pecundangnya aku, namun itulah aku. Kebahagiaan bagi orang lain belum tentu merupakan kebahagiaan bagiku. Keberhasilan bagi orang lain belum tentu keberhasilan bagiku. Aku punya tolak ukur kebahagiaan dan keberhasilan yang tak akan sama dengan orang lain. Karena aku adalah aku, dengan mimpi-mimpiku, dengan perjuanganku, dengan jalan hidupku, dengan harapan-harapanku. Dan tidak ada seorangpun yang berhak menilaiku dengan indikator kehidupan yang bukan kehidupanku.” Aku melanjutkan sambil menyesap pelan kopiku yang sudah mulai dingin.

“Entahlah. Mungkin karena kepribadianku yang negatif.”

“Ah, kau belum tahu betapa negatifnya kepribadianku. Tapi semua ejekan, semua hinaan, semua kata-kata menyakitkan orang-orang di luar sana sudah kenyang kutelan sendiri bulat-bulat. I used to drown myself in despair. Deep… drown. And then I remember my dream. Aku ingat bahwa Tuhan menciptakan sesuatu bukan tanpa arti dan alasan. And my dream, it could be the reason why have I lived.”

“You are right.”

“Probably. I could probably right and I could probably wrong. But… yeah… don’t let anyone put you down. Tak peduli seberapa kecilnya mimpimu, seberapa memalukannya mimpimu, kau harus bangga dan tetap memperjuangkan mimpimu. Selama mimpimu adalah hal yang baik, tak ada seorangpun yang berhak menilai mimpimu, apalagi menertawakan mimpimu. Mimpimu, hanya kau yang tahu betapa berharganya mimpimu, dan hanya kau yang bisa membuatnya menjadi nyata. Ketika kau lelah, ketika kau berputus asa, ingatlah mimpi-mimpimu, jadikan mimpimu energi untuk tetap bertahan dan maju.”

“Hei, aku ingin tahu, apa sebenarnya mimpimu?” Matanya menatapku penasaran.

“Hmm….” aku menghabiskan sisa kopi dingin di gelasku. “Apa kau benar-benar ingin tahu?” aku tersenyum.

“Katakan padaku, sebelum kita berpisah dan pulang.” matanya mengerjap penuh minat.

“Hmm…… baiklah. Tapi ini rahasia.” aku menatapnya tajam dan memelankan suaraku.

“Ya, aku tidak akan membocorkannya kepada siapapun.”sahutnya sambil mendekatkan telinganya ke arahku.

“Hmm…… sebenarnya…. aku…. aku ingin….. aku ingin……. aku ingin menguasai dunia persilatan.” aku berbisik .

“Hah? apa? K… K… Kau!!”serunya sambil menatap tak percaya ke arahku.

“Karena aku sebenarnya keturunan pendekar rajawali sakti.”Sahutku lagi

“Sampai lain waktu, kawan….” aku melambai ke arahnya sambil berjalan ke arah kasir sementara wajahnya masih setengah tak percaya. Dan tawanya lepas saat aku keluar selesai membayar kopiku.

We all have different dreams. Why don’t we start to cherish one another’s dream and work for our own dream. Humiliate other’s dream doesn’t makes your dream comes true anyway~

#NulisRandom2017

Day 8-Percaya Sajalah

10645026_10203812175837878_4575932065975031785_nPernahkah kau merasa bahwa mempertahankan hal yang kau yakini sebagai kebenaran dalam hidupmu menjadi begitu sulit. Masalah-masalah datang membelit, pikiran kian jadi rumit, hati pun mau tak mau ikut terjangkit. Sakit.

Argumentasimu, tak ada yang menerima.
Simpatimu, hanya menimbulkan curiga.
Logikamu, dianggap buta.
Air matamu, hanya dipandang kedok belaka.
Kata-katamu, tak berguna.

Padahal, yang kau inginkan hanya satu. Berpegang kepada yang benar.

Pada titik itu, nak. Bahkan kau mulai berburuk sangka pada semua. Pada teman, pada saudara, pada orang tua, pada rekan, pada dunia, pada Tuhanmu.

Seakan semua bersekutu, membencimu.

 

Sudahlah, kau memang tidak berguna.

Sia-sia kau mencoba meluruskan ranting yang bengkok.

Kau terlalu lemah, jika mereka tak mau dengar, PAKSA!!

Tapi, tak ada salahnya sedikit menyimpang, toh orang lain juga melakukannya.

Satu keburukan tak lantas membuatmu menjadi orang paling buruk di dunia.

Mungkin itu memang satu-satunya jalan. Kau hanya cukup bertaubat setelahnya. Toh Tuhan itu Maha Pengampun.

Dan jutaan bisikan-bisikan yang muncul, menyelinap dibalik belukarnya pikiranmu.

Hatimu gamang.

Jika berpegang kepada kebenaran tampak hanya akan menghancurkanmu, apakah kau masih mau bertahan?

Apa kau rela, menghancurkan dirimu, keluargamu, teman-temanmu. Hanya karena kepalamu yang sekeras baja untuk menolak menjadi ‘fleksibel’ dan mentolerir sebuah kesalahan.

Kau tahu, kesalahan yang kecil itu, tampaknya hanya percikan api di awal, namun akan membakar semua yang kau sayangi. Namun, apa kau sanggup bertahan untuk tidak menyentuhnya? Setelah semua tekanan yang hau rasakan?

Tahukah, Kau nak.

Kebenaran dan kebaikan itu harganya mahal. Jalannya sulit, Cemoohannya banyak.
Namun nilainya pantas kau perjuangkan.

Pesanku cuma satu, nak.

Berprasangka baiklah kepada Tuhanmu. Itu saja.

Bahkan ketika seluruh dunia meninggalkanmu. Bahkan ketika ratusan batuan tajam menghujam kakimu. Bahkan ketika udara yang kau hirup terasa membakar parumu. Bahkan saat kau mulai mempertanyakan Tuhanmu.

Ingatlah.

Tuhanmu Maha Penyayang.

Yang Ia minta hanyalah kepercayaanmu.
Sebagai bukti bahwa kau adalah hamba yang benar-benar menghamba.

Sejauh mana kau sanggup percaya. Bahwa masalahmu tak lebih besar dari kuasa Tuhanmu. Bahwa Tuhanmu sayang padamu, melebihi kau menyayangi degup jantungmu sendiri. Bahwa semuanya adalah skenario indah yang sudah disiapkan untukmu, bahkan sebelum nyawamu ada di jasad.

Nak, teruslah berprasangka baik kepada Tuhanmu.

Itu saja.

Percaya sajalah, bahwa Ia tak pernah salah.
Ia memberikan kesulitan karena Ia mempercayai kekuatanmu.

Percaya sajalah, bahwa Ia tak pernah meninggalkanmu.
Ia hanya menyiapkan jalan terbaik untukmu di saat yang terbaik.

Percaya sajalah, bahwa Ia selalu mendengarkan.
Ia tahu apa yang kau minta, namun Ia tahu apa yang paling baik untukmu.

Meski dari keterpurukan tergelap dalam hidupmu, Ia akan menolongmu bangkit dengan cara yang tak pernah kau duga.

Melebihi ekspektasimu. Melebihi kalkulasimu. Melebihi analisamu. Melebihi segala apa yang enkau mampu pikir dan rasakan.

Tahukah kau nak, disitulah kau akan merasakan, betapa besar kasih sayang-Nya.

–Rawamangun, Setelah perdebatan singkat yang berat–

#NulisRandom2017

Day 6-Sakit Pikiran, Badan yang Sakit

Ada seorang lelaki usia produktif yang jadi pelanggan setia RS.

“Kenapa ya sus, penyakit saya kok nggak sembuh-sembuh.” Keluhnya kepadaku siang itu.

“Udah tes ini, tes itu, cek ini, cek itu, semuanya normal. Saya bingung, sus.” Tambahnya lagi.

Masuk berkali-kali dengan keluhan beragam. Namun tak diketemukan satupun kelainan pada hasil pemeriksaan diagnostik. Misteri….

Apakah ini mistis? Santet mungkin? Atau Voodoo? Guna-guna?

Ah tentu tidaaak~

Oleh dokter, si pemuda ini kemudian dikonsulkan ke bagian kejiwaan, psikiatri untuk mendapat pemeriksaan tentang kemungkinan sumber penyakit misteriusnya. Pikiran.

Percaya tak percaya, pikiran dan jiwa manusia memberikan pengaruh besar bagi fisik manusia.

Stress dan kondisi kejiwaan yang buruk ternyata bisa menimbulkan penyakit-penyakit fisik. Para ahli menyatakan bahwa kondisi psikologis dapat mempengaruhi kondisi fisiologis.

Gejala penyakit yang nyata namun tak kunjung sembuh meski sudah mendapatkan terapi medis, mungkin yang salah itu psikis, bukan fisik, bukan pula santet.

Psikosomatik? Bisa jadi.

Mulai dari gangguan pecernaan, ruam kulit, nyeri ulu hati, kesulitan menelan, kelelahan kronis, nyeri, gangguan pada jantung, dan beragam gejala penyakit lainnya bisa muncul akibat gangguan pada psikis. Ada sangat banyak penyakit hati dan pikiran yang akhirnya menjadi penyakit fisik karena terlalu banyak kontaminasi hal-hal negatif.

Sakit perut saat akan tampil. Mual dan muntah saat akan presentasi. Irama jantung tak beraturan saat bos paling galak akan datang inspeksi. Beser saat akan interview. Demam saat akan ujian. Semua itu bukan imajinasi.

Manajemen stress dan mekanisme koping yang efektif adalah senjatanya dan pikiran yang positif adalah inti pemicunya.

Karena pikiran yang positif dan jiwa yang positif adalah salah satu poin penting untuk tubuh yang sehat dan kuat.

Soooo…… keep positive walaupun di sekelilingmu terlalu banyak hal-hal negatif.
Keep your positive bubble and be strong!!

Percayalah, psikosomatis itu bukan mitos~

#NulisRandom2017

#hijaboramadhanchallenge

Day 5-Aaah…. Aku Pingsan!!

Malam yang  (tumben-tumbenan) tenang di IGD.
“Dokter!!! Suster!!! Tolong anak saya!!” Seorang Ibu yang histeris memecah kehusyu’an gosip malam itu.

Dengan sigap, para punggawa IGD menyambut sang anak yang tam0ak tak sadarkan diri di atas brankar.

Mbak Sita, Perawat penanggung jawab IGD malam itu menganalisa pasien secara cepat dan menghampiri sang ibu.

“Ibu, bisa Ibu ceritakan kejadinya seperti apa sampai anak ibu dibawa kemari.” Mbak Sita memapah si Ibu yang mulai lunglai dan tak henti terisak.

“Anak saya….. hiks….. anak saya….”

“Iya, anak ibu kenapa?”

“Anak saya pingsan lagi, sus…. hiks…. sampai sekarang…. hiks…. belum bangun…. hiks….” Si Ibu mengelap air matanya dengan ujung jilbab yang dikenakannya.

“Yasudah, Ibu tenang dulu, anak ibu sedang kami tangani. Silahkan Ibu menunggu di sini.” Mbak Sita mengarahkan si Ibu untuk duduk di bangku ruang tunggu IGD.

Dengan senyum mistis dan berselimut aura misterius, Mbak Sita menghampiriku yang tengah bersiap untuk mengukur tekanan darah.

“Nggak usah repot-repot, Rin.” Mbak Sida berbisik di telingaku.

“Lah, kenapa mbak?” Dengan tampang bingung aku menatap Mbak sita.

“Kamu liat aja nanti. Tunggu aja dokter Angga datang.” Mbak Sita menepuk pundakku sambil tetap tersenyum penuh misteri.

Tak berapa lama, Dokter Angga, dokter jaga malam itu datang. Selintas melirik ke arah pasien muda itu, Dokter Angga berjalan ke arah lemari penyimpanan obat dan meraih sebotol ethanol dan disiramkannya ke kasa.

Tanpa basa basi, kata pengantar ataupun pantun pembuka, serta merta Dokter Angga mengarahkan kasa berbalur ethanol tadi ke hidung si anak perempuan itu.

“Uhuk…. uhuk….. dokter Angga tega ih…. uhuk… uhuk… bau tau…..” spontan si anak perempuan yang sebelumnya tergeletak lunglai bangun dari ‘pingsan’.

Dan saya shooockkkk sodara sodari sebangsa tanah dan sebangsa air!!

“Kamu tu yah, harus berapa kali dibilangin, jangan pura-pura pingsan lagi!!” Dokter Angga memarahi si anak perempuan yang sekarang merengut-rengut karena aktingnya terbongkar.

Dokter Angga menghela nafas panjang. Keningnya berkerut kusut seperti butuh disetrika. “Kali ini apalagi? Berantem sama pacar?”

Si anak gadis yang masih kelas 11 itu tertunduk sambil tersenyum malu.

“I….. iya dok…..”jawabnya lirih.

Aku yang menyaksikan adegan tadi terpana. Butuh beberapa menit sampai otak jelly-ku memahami kejadian barusan.

Ternyata eh ternyata, anak perempuan tadi sudah berkali-kali masuk IGD dengan diagnosa sinkopasi a.k.a pingsan.

Setelah dilakukan beragam pemeriksaan, tak kunjung diketemukan penyebab penyakitnya. Hingga suatu hari, si anak berhasil dianamnesa dan terkuaklah fakta bahwa selama ini dia hanya PURA-PURA PINGSAN!!

Dan hebatnya lagi, setelah dinasehati, dan diberitahukan kepada keluarganya tentang akting pingsan si anak, ternyata adegan pingsan-pingsanannya masih tetap berlanjut. Dan orang tuanya masih sering tertipu dengan aktingnya tadi. Mungkin kalau ada award untuk adegan pingsan terbaik, dedek gemez satu sini bisa borong piala tiap tahunnya.

—oOo—

Anyway, kasus seperti ini aku kira cuma satu, tapi ternyata……. *jeng jeng* Ternyata ada cukup banyak.

Ketika stress, atau ketika keinginannya tak dipenuhi, pura-pura pingsan menjadi jalan keluar.

Entah itu pengembangan dari ajian jurus ‘pura-pura mati’ ala Raditya Dika, atau memang ada trend seperti itu di kalangan dedek-dedek emezh. Entahlah….

Yang jelas…. apapun tujuannya, pura-pura pingsan (dan atau pura-pura mati) sampai bikin orang tua dan sekeliling kita panik dalah bukan hal yang keren, dik adik….

#NulisRandom2017

No pict for today~ Too tired~